Kamis, 29 Juli 2021

PERSEPSI MAHASISWA NON MUSLIM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO TERHADAP PROGRAM PERKULIAHAN AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN (AIK) ALA MONDOK

 PERSEPSI MAHASISWA NON MUSLIM  UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO TERHADAP PROGRAM PERKULIAHAN AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN (AIK) ALA MONDOK 

Muhammad Ihsan Dacholfany

mihsandacholfany@yahoo.com

Iswati

iswati@ummetro.ac.id

Renci

Rencienci04@gmail.com

Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung

 

Abstract

                                                                                                              

            Muhammadiyah Metro University is a universal university or in the sense that non-Muslim students are allowed to study at Muhammadiyah Metro University. However, Muhammadiyah Metro University has certain policies in the administration of Al-Islam and Muhammadiyah Studies (AIK)  lectures which are one of the characteristics of Muhammadiyah Higher Education, which is mandatory for all students, both Muslim and non-Muslim.

The purpose of this study was to describe the perceptions of non-Muslim students towards al-Islam and Muhammadiyah lectures and to find out the perceptions of non-Muslim students towards Islamic teachings after attending the Al Islam and Muhammadiyah  Studies (AIK) lectures. The target output is scientific publications in ISSN scientific journals. The long-term target after this research is to formulate AIK learning designs and methods that can attract Muslim students in general and non-Muslims in particular in order to increase learning motivation.

This research is a qualitative research category with descriptive research type. Qualitative research is a research procedure that produces descriptive data in the form of written or spoken words from people and observable behavior. In this study, researchers selected informants using a purposive sampling method. Purposive sampling is the selection of samples by aligning the objectives of the study and the samples taken. The samples are several non-Muslim students who have taken the Al Islam and Muhammadiyah  Studies (AIK) 1 course.

            The results showed that the perception of non-Muslim students towards the AIK lecture program ala Mondok, most of them agreed and a small proportion disagreed, the perception of non-Muslim students towards Islamic teachings after implementing Al Islam and Muhammadiyah  Studies (AIK) ala Mondok, their knowledge of Islam expanded, and understood that everything in In Islam there is guidance and lectures in AIK style are the uniqueness of Muhammadiyah Metro University.

 

Keywords: Student Perception, Non-Muslim, Learning, Al Islam Kemuhammadiyahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

 

Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, beraqidah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagai gerakan dakwah Islam Muhammadiyah memiliki tujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, 2000). Ruang lingkup gerakan Muhammadiyah setidaknya dapat dikelompokkan menjadi: 1)Bidang pendidikan 2) Bidang keagamaan dan 3) Bidang kemasyarakatan.

Universitas Muhammadiyah Metro yang selanjutnya disingkat dengan UM Metro yang berada di kota Metro Lampung yang merupakan salah satu perguruan tinggi dari Amal Usaha Muhammadiyah yang keberadaannya  memiliki peran ganda, yaitu di samping bergerak di bidang pendidikan (Transfer Of Knowledge) juga memiliki misi keagamaan (Transfer of Value) atau dengan istilah lain UM Metro tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, melainkan juga institusi kepanjangan tangan dakwah Muhammadiyah, terutama dakwah kepada civitas akademika yang terdiri dari dosen, karyawan, mahasiswa dan masyarakat sekitar, artinya UM Metro memiliki fungsi sebagai lembaga dakwah Muhammadiyah dalam mencapai tujuan utama Muhammadiyah lewat bidang pendidikan guna mewujudkan masyarakat yang sebenar-benarnya. 

Salah satu ciri yang melekat pada perguruan tinggi  Muhammadiyah (PTM) adalah keikutsertaannya dalam lembaga dakwah sebagai upaya untuk   melahirkan, memperbanyak dan meningkatkan kualitas kader-kader Muhammadiyah. Sesuai dengan hal itu, upaya maksimal untuk melahirkan kader-kader Muhammadiyah melalui proses pendidikan di lembaga pendidikan Muhammadiyah harus diupayakan melalui berbagai usaha terutama melalui pendidikan dan pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Pembelajaran AIK di PTM menempati posisi strategis, bahkan, menjadi ruh penggerak dan menjadi misi utama penyelenggaraan PTM.

Pendidikan Al-Islam dan Kemuhamadiyahan (AIK) juga menjadi kekuatan PTM, karena dapat menjadi basis kekuatan spiritual, moral dan intelektual serta daya gerak bagi seluruh civitas  akademika. Pendidikan AIK juga sebagai identitas karakter civitas akademika PTM, yaitu sebagai muslim yang berkemajuan,berakhlakul karimah, berjiwa philantropis, memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian terhadap persoalan umat dan bangsa.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         Dalam pelaksanannya, sudah ada beberapa PTM sudah melakukan konsep kampus Islami dengan bentuk beragam, model dan mekanisme yang variatif, namun tetap harus dalam koridor Islami sebagaimana karakter Muhammadiyah.

 Sesuai Pedoman Pendidikan AIK Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang dirumuskan oleh tim Majlis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah jumlah jam pembelajaran  dan SKS masing-masing PTM dapat berbeda,  minimal 8 SKS dan maksimal 12 SKS (Majlis Dikti PP Muhammadiyah, 2013). AIK merupakan salah satu ciri dari perguruan tinggi Muhammadiyah yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baik yang beragama Islam maupun yang beragama non-Islam. AIK bisa dikatakan sejenis Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi umum, perbedaannya Pendidikan Agama Islam cukup diberikan hanya satu semester, sementara AIK diberikan selama empat semester dengan penjenjangan yaitu AIK I, AIK II, AIK III dan AIK IV.

Sebagai kampus Muhammadiyah, UM Metro melaksanakan Catur Dharma Perguruan Tinggi dalam fungsi keberadaannya sebagai institusi Perguruan Tinggi, berbeda dengan PTN atau PTS non Muhammadiyah, UM Metro tidak saja mewujudkan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengadian, tetapi juga harus melakukan proses pembinaan karakter yang berbasis pada nilai-nilai ajaran Islam. Sesuai dengan Catur Darma Perguruan Tinggi tersebut, UM Metro tidak membatasi pada kelompok tertentu tapi bersifat universal, artinya UM Metro terbuka pada setiap kelompok, baik aliran tertentu dalam Islam maupun non Islam.  menyikapi berbagai kelompok agama yang berbeda dengan visi misi Muhammadiyah, maka Universitas Muhammadiyah Metro memiliki kebijakan-kebijakan tertentu dalam penyelenggaraan perkuliahan AIK. Kebijakan-kebijakan tersebut adalah dengan mewajibkan setiap  mahasiswa tidak terkecuali mahasiswa non muslim untuk menempuh mata kuliah AIK.

Menyadari peran ganda yang diemban oleh UM Metro sebagaimana yang telah disinggung di atas serta didukung dengan adanya mahasiswa non muslim yang menuntut ilmu di UM Metro, maka  UM Metro khususnya wakil rektor IV bidang AIK terus melakukan koreksi akan metode pembelajaran yang diterapkan, sehingga di tahun 2018 Universitas Muhammadiyah Metro telah melakukan kerjasama dengan Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir dalam rangka membangun jiwa mahasiswa yang Islami yang kokoh dengan menerapkan belajar AIK ala mondok baik bagi mahasiswa muslim dan non muslim. Pembelajaran ini berlangsung selama kurang lebih lima hari empat malam di Pondok Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir. Selama disana, seluruh mahasiswa UM  Metro khususnya yang saat ini sedang duduk di semester satu akan belajar mengenai AIK 1.

Salah satu mahasiswa non muslim menyatakan bahwa dirinya merasa nyaman dan tidak terbebani dengan kewajiban menempuh mata kuliah AIK yang notabene berbeda dari agama yang ia yakini. Pendapat dari informan awal tentu tidak dapat mewakili pendapat pendapat serta argumen dari mahasiswa non muslim lainnya tentang keberadaan mata kuliah AIK 1 yang diwajibkan bagi seluruh mahasiswa di lingkungan Universitas Muhammadiyah Metro. Berdasarkan uraian di atas maka tulisan ini  mengemas lebih mendalam tentang Persepsi Mahasiswa Non Muslim UM Metro Terhadap Program Pembelajaran AIK Ala Mondok

 

Rumusan Penelitian                  

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan:

1.    Bagaimana persepsi Mahasiswa Non Muslim Terhadap Perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan ala mondok ?

2.    Bagaimanan persepsi Mahasiswa Non Muslim terhadap Ajaran Agama  Islam sesudah mengikuti Perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK)?

 

Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini termasuk kategori penelitian kualitatif denganjenis penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif menurut Moleong (2005) adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Adapun materi dalam penelitian ini adalah membahas persepsi mahasiswa non muslim terhadap perkuliahan AIK 1 ala Mondok yang wajib diambil oleh semua mahasiswa yang berkuliah di UM Metro. Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah persepsi mahasiswa non muslim dan Perkuliahan AIK 1. Persespsi di sini adalah bagaimana pandangan positif atau negative mahasiswa non muslim setelah melalui  proses pembelajaran mata kuliah AIK 1  sedangkan mata kuliah AIK di sini adalah mata kuliah yang memuat materi tentang keislaman. Analisis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Peneliti dalam penelitian ini akan melakukan tahap-tahap analisis data sebagai berikut: Classifying, Coding, Editing, Interpreting.

 

Pembahasan

Persepsi

Persepsi  berasal dari bahasa Latin , perceptio, percipio yang artinya  tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan. DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia persepsi adalah “Proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Menurut Eysenck dalam (Asrori, 2009) persepsi adalah proses belajar dan pengalaman. Hasil proses belajar dan interaksi seseorang akan memberikan pengalaman bagi dirinya untuk dapat membandingkan keadaan yang dihadapi.

Slameto (2015)  mengatakan bahwa persepsi adalah proses yang berkaitan dengan masuknya pesan dan informasi ke dalam otak manusia, sedangkan menurut Abdurahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab (2004:88) persepsi adalah proses yang menggabungkan dan mengorganisasikan data-data indra seseorang (pengindraan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat menyadari di sekelilingnya termasuk sadar akan dirinya sendiri.

Berdasarkan beberapa perspektif mengenai persepsi di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwasanya persepsi bukan sekedar proses pengindraan saja, tetapi ada unsur interpretasi di dalamnya. Persepsi juga merupakan sebuah proses pengamatan individu terhadap segala sesuatu yang ada di dalam lingkungannya. Persepsi individu muncul karena adanya aktivitas mengindra, menginterpretasikan dan memberi penilaian terhadap objek-objek fisik maupun social yang ada di lingkungannya.

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu :

a)    Persepsi visual yaitu persepsi yang didapatkan dari penglihatan.,

b)   Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga,

c)    Persepsi perabaan yaitu persepsi yang didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.

d)   Persepsi penciuman adalah persespsi yang didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.,

e)    Persepsi pengecapan

Persepsi  dalam Islam adalah fungsi psikis yang penting yang menjadi jendela pemahaman bagi peristiwa dan realitas kehidupan yang dihadapi manusia. Manusia sebagai makhluk yang diberikan amanah kekhalifahan diberikan berbagai macam keistimewaan yang salah satunya adalah proses dan fungsi persepsi yang lebih rumit dan lebih kompleks dibandingkan dengan makhluk Allah yang lainnya. Dalam bahasa Al-Qur’an, beberapa proses dan fungsi persepsi dimulai dari proses penciptaan. Dalam firman Allah  artinya  dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.    (Q.S. Al-Mukminun ayat 12-24)

Proses persepsi dilalui dengan proses penerimaan stimulus pada reseptor yaitu indera, yang tidak langsung berfungsi setelah dia lahir, tetapi akan berfungsi sejalan dengan perkembangan fisiknya (Najati, 2001). Di dalam Al-Qur‟an terdapat terdapat beberapa ayat yang maknanya berkaitan dengan panca indera yang dimiliki manusia, antara lain dalam QS. An-Nahl ayat 78 yaitu : Artinya : dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, persepsi mengandung pengertian yang sangat luas menyangkut intern dan ekstern. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, namun pada prinsipnya mengandung makna yang sama.

 

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Persepsi

Bimo Walgito (1991,54) mengemukakan tiga faktor yang berpengaruh terhadap persepsi yaitu:

a.    Stimulus yang kuat, stimulus yang melampaui lambang stimulus kejelasan akan banyak pengaruh terhadap persepsi.

b.    Fisiologis dan psikologis, jika system fisiologisnya terganggu hal ini akan berpengaruh dalam persepsi seseorang, segi psikologis yang menyangkut pengalaman, perasaan kemampuan berfikir dan sebagainya juga akan berpengaruh pada seseorang dalam mempersepsi

c.    Faktor lingkungan, situasi yang melatarbelakangi stimulus juga akan mempengaruhi persepsi.

 

Proses Terjadinya Persepsi

Tahap awal dari proses persepsi adalah sensasi. Sensasi merupakan kesadaran akan adanya suatu rangsang. Semua rangsang masuk ke dalam diri seseorang melalui panca indera, yang kemudian diteruskan ke otak yang menjadikan sadar akan adanya rangsang tersebut, rangsang yang sekedar masuk dalam diri seseorang tetapi hanya menyadarinya tanpa mengerti atau memahami rangsang tersebut disebut sensasi. Tetapi jika disertai dengan pemahaman atau pengertian tentang rangsang itu disebut persepsi (Mif Baihaqi, 2005, 63).

Proses terjadinya persepsi yaitu objek yang menimbulkan stimulus, dan stimulus  mengenai alat indera atau reseptor. Proses stimulus mengenai alat inderamerupakan proses kealaman atau proses fisik. Stimulus yang diterima alat indera diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini disebut proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat, apa yang didengar, atau apa yang diraba yaitu stimulus yang diterima melalui alat indera.

Dalam proses persepsi perlu adanya perhatian sebagai langkah persiapan dalam persepsi. Hal tersebut karena keadaan menunjukkan bahwa individu tidak hanya beradaptasi dengan satu stimulus saja, tetapi berbagai macam stimulus yang ditimbulkan oleh keadaan sekitarnya. Namun tidak semua stimulus mendapat respon individu untuk dipersepsi. Stimulus mana yang akan dipersepsi atau mendapat respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang bersangkutan (Bimo Walgito, 1991, 71).

Bagi kebanyakan orang sangatlah mudah untuk melakukan perbuatan melihat, mendengar, membau, merasakan dan menyentuh, yakni proses-proses yang sudah semestinya ada. Namun, informasi yang dating dari organ-organ indera perlu terlebih dahulu diorganisasikan dan diinterpretasikan sebelum dapat dimengerti dan proses ini dinamakan persepsi. Menurut Pareek proses persepsi terbagi menjadi 5, sebagai berikut:

1)        Proses menerima rangsangan, menerima rangsangan atau data dari berbagai sumber. Kebanyakan data diterima melalui panca indera.

2)        Proses menyeleksi rangsangan, setelah diterima rangsangan atau data diseleksi tidaklah mungkin untuk memperhatikan semua rangsangan yang telah diterima. Rangsangan-rangsangan itu disaring dan diseleksi untuk diproses lebih lanjut.

3)        Proses pengorganisasian, rangsangan yang diterima selanjutnya diorganisasikan dalam bentuk pengelompokkan

4)        Proses penafsiran, setelah rangsangan atau data diterima, si penerima lalu menafsirkan data itu. Dikatakan bahwa telah terjadi persepsi setelah data itu ditafsirkan. Pada dasarnya persepsi memberikan arti pada berbagai data dan informasi yang diterima

Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa proses persepsi merupakan komponen pengamatan yang di dalam proses itu melibatkan pemahaman dan penginterpretasian sekaligus. Adapun indikator persepsi yang diukur ada tiga:

1.        Seleksi (Selection)

       Seleksi adalah tindakan memperhatikan rangsangan tertentu dalam lingkungan. Hal ini merujuk pada pesan yang dikirimkan ke otak lewat penglihatan, pendengaran, pada saat pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyan.

2.        Organisasi (Organization)

       Setelah menyeleksi informasi di lingkungan, kita mengorganisasikannya dengan merangkainya sehingga menjadi bermakna

3.        Interpretasi (Interpretation)

       Interpretasi adalah proses subjektif dari menjelaskan persepsi ke dalam cara yang dimengerti. Dalam hal ini bias berupa tindakan atau reaksi yang muncul dari mahasiswa non muslim berupa tindakan-tindakan yang menunjang kearah tercapainya kemampuan untuk menginterpretasi terkait pembelajaran AIK ala mondok. Seperti penambah pengetahuan tentang Islam, tata cara kehidupan dan ibadah dalam Islam apabila  mahasiswa non muslim  tersebut mempunyai persepsi positif, akan tetapi jika jika mahasiswa mempunyai persepsi negative terhadap pembelajaran AIK muncul berupa tindakan acuh, tidak perduli terhadap mata kuliah AIK.

 

 

 

Mahasiswa Non Muslim

Mahasiswa secara harfiah adalah adalah seseorang yang belajar baik di sekolah tinggi, institute, universitas, akademi maupun di perguruan tinggi. Definisi mahasiswa sendiri adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi setelah menamatkan Sekolah Menengah  Atas (SMA). Menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2019 ) mahasiswa adalah seseorang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Di dalam dunia pendidikan, status mahasiswa adalah status tertinggi seorang murid di dunia pendidikan, dari pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa mahasiswa adalah seseorang yang belajar di bangku perkuliahan dengan mengambil jurusan tertentu.

Dalam konteks Al-Qur’an istilah non muslim mengacu pada apa yang disebut kafir. Hal ini dikarenakan mereka tidak mengakui keimanannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. (Darwis Muhdina, 2015), Kata kafir secara etimologis memiliki arti menutup diri, melepas diri, menghapus atau menyembunyikan kebaikan yang telah diterimanya dan dari segi akidah, kafir berarti orang-orang yang kehilangan imannya. Sementara secara terminologis, pengertian kafir adalah orang yang ingkar terhadap kebenaran Islam, sedangkan istilah kafir dalam Al-Qur’an merujuk pada suatu perbuatan yang berhubungan secara langsung dengan Allah, namun semua hubungan tersebut bersifat negatif, seperti mengingkari nikmatnya, lari dari tanggung jawab, penolakan atau pembangkangan terhadap hokum Allah dan meninggalkan amal saleh yang diperintahkan oleh Allah. Secara keseluruhan dari 525 kali kata kafir dalam berbagai derivasinya, arti yang paling dominan adalah pendustaan atau pengingkaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, khususnya kepada Nabi Muhammad beserta ajaran yang dibawanya.

Istilah kafir dengan non muslim dalam arti yang luas adalah sama, yakni orang yang tidak menganut agama Islam, tentu saja maksudnya tidak hanya mengarah pada satu agama saja, tetapi akan mencakup sejumlah agama dengan segala bentuk kepercayaan dan variasi ritualnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an menyebut kelompok non muslim ini secara umum sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yahudi, orang-orang shaabi’in, orang-orang nasrani, orang-orang majusi, dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan diantara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu” (QS. Al-Hajj:17).

Berdasarkan uraian di atas yang di maksud mahasiswa non muslim meliputi  seluruh mahasiswa di luar agama Islam yang aktif dan  sedang menempuh mata kuliah AIK 1 pada semester awal. Sedangkan Persepsi dalam penelitian ini merupakan penilaian subyektif dari masing-masing  mahasiswa non muslim terhadap model pembelajaran AIK 1, terhadap metode dan pelaksanaan AIK 1 ala mondok.

 

 

 

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ala Mondok

Al Islam dan kemuhammadiyahan (AIK) pada perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) mempunyai kedudukan sebagai pembelajaran formal yang ditetapkan sebagai mata kuliah sebagaimana mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi di Indonesia yang bersifat wajib bagi pemeluk agama Islam.  Perbedaannya terletak pada total jumlah SKS (Sistem Kredit Semester) pada PAI dan AIK, jika PAI  berjumlah 2 SKS yang diberikan pada satu semester, umumnya di semester 1, sedangkan AIK berjumlah minimal 8 SKS dan maksimal 12 SKS. Mata kuliah AIK merupakan mata kuliah yang wajib di tempuh oleh seluruh mahasiswa di PTM.

Masing-masing Perguruan Tinggi Muhammadiyah dapat berbeda dalam jumlah jam pembelajaran dan total jumlah SKS AIK. Selain itu, pedoman AIK di PTM menetapkan tahapan pembahasan AIK menjadi empat; AIK I (berisi kemanusiaan dan keimanan), AIK II (Ibadah, akhlaq dan muamalah), AIK III (Kemuhammadiyahan), AIK IV (Islam dan Ilmu Pengetahuan). Adapun tujuan pembelajaran AIK adalah bertujuan membentuk sarjana muslim yang mengenal diri dan Tuhan, misi, tujuan dan manfaat hidupnya sebagaimana dituntunkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. AIK II bertujuan (Majlis Dikti PP Muhammadiyah, 2013) membentuk sarjana muslim  yang taat dan benar dalam beribadah, unggul dalam bermuamalah dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. AIK III bertujuan membentuk sarjana muslim sebagai kader persyarikatan Muhammadiyah yang mampu ber-amar ma’ruf nahi ‘an munkar  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. AIK IV bertujuan membentuk sarjana muslim yang berjiwa dan berperilaku cendekia (ulul albab).

Visi pelaksanaan AIK 1 UM Metro di Pondok At-Tanwir sebagai pondok tempat mahasiswa UM Metro belajar AIK 1 adalah terwujudnya kader Muhammadiyah yang beriman, bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan berakhlak mulia. Sedangkan misinya 1) Melaksanakan kegiatan Pendidikan Tinggi Muhammadiyah yang memadukan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan ilmu pengetahuan dan teknologi secara selaras, serasi dan seimbang; 2) Mengajarkan dan mengamalkan ajaran agama Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah; 3) Menciptakan, mengembangkan, dan menyebarkan  ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian; 4) Melaksanakan pembinaan Kemuhammadiyahan secara terpadu, terencana, dan terlaksana dengan baik (Sujino, 2018).  Selaras dengan tujuan AIK 1 terintegrasi dengan pondok.

          Tujuan pendidikan AIK 1 UM Metro terumuskan menjadi tiga:

1.    Berkembangnya potensi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, berakhlak mulia, cerdas, beerilmu, cakap, kreatif dan mandiri senhingga terwujud masyaarakat Islam yang sebenar-benarnya;

2.    Terwujudnya kemampuan penciptaan, pengembangan, dan penyebarluasan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang memberikan kemaslahatan bagi masyarakat, bangsa, negara, dan umat manusia;

3.    Terbinanya Keislaman dan Kemuhammadiyahan yang mencerdaskan dan mencerahkan bagi seluruh civitas akademik dan kehidupan yang lebih luas.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran AIK ala mondok adalah pembelajaran mata kuliah Pendidikan Agama Islam di PTM yang wajib diikuti seluruh mahasiswa muslim dan non muslim dan dilaksanakan di pondok pesantren pimpinan Daerah Metro At Tanwir. Menariknya belajar ala mondok di Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir ini, mahasiswa muslim tidak hanya dituntut untuk mengetahui apa saja mengenai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, namun jauh lebih dalam, mereka akan dibimbing untuk mempraktekkannya secara langsung apa yang telah mereka pelajari. Selain itu, mereka juga akan dibimbing untuk melaksanakan ibadah harian yang bertujuan untuk menguatkan iman mereka selaku umat muslim seperti sholat sunnah Dhuha, sholat sunnah Tahajjud, sholat sunnah Al-Fajr, sholat sunnah Syuruq, dan ibadah-ibadah lainnya. Sementara bagi mahasiswa non muslim perkuliahan ini diwajibkan karena ini AIK adalah mata kuliah wajib yang harus di ikuti oleh semua mahasiswa tetapi yang perlu dipahami  AIK bagi non muslim wajib dalam konteks akademik dan bukan dalam hal keyakinan.

 

Hasil Penelitian

Penelitian ini di mulai dengan mendata jumlah seluruh mahasiswa non muslim dari tiap Fakultas yang ada di UM Metro terkecuali Fakultas Agama Islam, kemudian melaksanakan wawancara pada dua mahasiswa sebagai survey awal penjajagan persepsi, melakukan wawancara dengan wakil Rektor IV bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan dan kerjasama, dan wawancara dengan mudir pondok At-Tanwir tempat dimana mahasiswa melaksanakan pembelajaran AIK 1. Belajar AIK ala mondok ini pertama kali telah dilaksanakan pada Kamis, 1 Maret 2018, hingga tahun 2019 telah 3 periode dilaksanakan. Berdasarkan  informasi yang dikutip dari direktur Pondok Pesantren (Pontren) AT-Tanwir Muhammadiyah Kota Metro, (Sujino,2019) bahwa untuk menghadapi perkuliahan AIK 1 ini pihaknya sudah mempersiapkan segala kebutuhan. Mulai dari konsep perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasi diakhir perkuliahan.

Berdasarkan informasi dari wakil Rektor IV bidang AIK dan Kerjasama (M. Ihsan Dacholfany, 2019) bahwa pelaksanaan perkuliahan AIK 1 ala pondok ini memiliki beberapa tujuan yaitu mahasiswa akan diasah kecerdasan intelektual, emosional, spritual dan Adversity Quotient atau kecerdasan mengatasi kesulitan menjadi peluang meraih kesuksesan, dan Kecerdasan Kretifitas ”dan “Mudah-mudahan dengan lima kecerdasan itu kita menjadi orang-orang baik dan tergolong orang yang sukses.” Selanjutnya melakukan penelitian mengumpulkan informasi dengan wawancara mendalam dengan beberapa mahasiswa non muslim.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:

 

Persepsi Mahasiswa non muslim terhadap program perkuliahan AIK ala Mondok di Pondok At-Tanwir

Jumlah mahasiswa non muslim pada Tahun Ajaran 2019/2020 dari semua fakultas yang ada di UM Metro seluruhnya berjumlah 24 mahasiswa. Penerapan program perkuliahan AIK 1 ala pondok berdasarkan berdasarkan wawancara kepada seluruh mahasiswa non muslim, hampir seluruh mahasiswa non muslim menyatakan setuju dengan dilaksanakannya program perkuliahan AIK ala mondok, beberapa mahasiswa menyatakan kurang setuju karena mereka sedikit kurang nyaman dengan iklim dan rutinitas ala pondok yang tidak biasa mereka lakukan, namun menurut penuturan dari mereka yang setuju, perkuliahan AIK ala mondok baik secara langsung maupun tak langsung membawa manfaat bagi aplikasi ilmu,  mengajarkan toleransi bagi mereka, belajar hidup berdampingan dengan mahasiswa muslim, mengenal kebiasaan hidup mahasiswa muslim, memahami waktu dan cara peribadatan mahasiswa muslim. Mendapatkan pengalaman yang luar biasa seperti ini tentunya tidak dirasakan oleh mahasiswa non muslim di kampus selain Muhammadiyah dan menurut mereka pelaksanaan di pondok tidak menjadi beban bagi mereka, dan mereka merasa nyaman karena perlakuan pendamping (mushrif/musyrifah) tidak membedakan mereka dalam hal perlakuan dan kesempatan untuk aktif dalam perkuliahan dengan mahasiswa muslim dan fasilitas yang diterima mereka pun sama.

Kebanyakan Mahasiswa non muslim menyatakan bahwa dirinya merasa nyaman dan tidak terbebani dengan kewajiban menempuh mata kuliah AIK yang notabene berbeda dari agama yang ia yakini, bahkan, pernyataan tersebut didukung dengan argumen mahasiswa non muslim dari fakultas teknik selaku penganut agama hindu bahwa “adalah sangat wajar jika UM Metro sebagai kampus Islam mewajibkan mahasiswanya yang non muslim menempuh mata kuliah keislaman karena mata kuliah ini tentu akan memberikan manfaat meskipun hanya berupa pengetahuan tentang Islam”. Pernyataan dari mahasiswa lain bahwa “belajar AIK 1 ala mondok sistem pembelajarannya tidak membosankan, seperti belajar sambil bermain karena dosen pengajarnya bervariasi, terkadang bertemu dosen yang tegas, terkadang dosennya humoris. Sering juga ada game dan pemberian reward bagi mahasiswa tidak terkecuali mahasiswa non muslim yang aktif atau mampu menjawab pertanyaan ataupun hanya sekedar meriview materi yang sudah dibahas bersama, sehingga tidak ada kesenjangan bagi kami mahasiswa non muslim” penilaian positif lain dari mahasiswa non muslim adalah mereka secara tidak langsung belajar bahwasanya waktu-waktu ibadah dalam Islam itu mengajarkan untuk manusia berdisiplin, mengalahkan malas dan harus memenuhi panggilan Tuhan untuk beribadah ketika adzan sudah berkumandang.

Kode etik yang perlu di garis bawahi yaitu kampus juga melarang dosen maupun mahasiswa mengajak mahasiswa non muslim untuk masuk Islam, karena jika hal itu terjadi tentunya harus berdasarkan pada pemahaman mereka tentang Islam, kemauan dan kerelaan hati mahasiswa yang bersangkutan, tapi setidaknya setelah mengikuti perkuliahan AIK, Mahasiswa non muslim, penganut Protestan, misalnya, tetap menjadi umat protestan yang baik. Jadi mereka memahami sepenuhnya bahwa mengikuti AIK ala mondok  wajib bagi seluruh mahasiswa tak terkecuali, mereka bersama harus bisa mengaji substansi AIK 1,  tahu ilmu agama Islam meski dalam konteks akademik saja.

 

Gambar Mahasiswa Saat Perkuliahan AIK di Pondok

http://attanwirmetro.or.id/wp-content/uploads/2018/04/IMG_20180423_062703.jpg

 

 

 

Pondok Pesantren Muhammadiyah at-Tanwir Metro – PONDOK PESANTREN ...

 

 

 

 

 

 

Gambar Dosen saat mengajar AIK di pondok

 

Persepsi Mahasiswa non muslim tentang Ajaran Islam Setelah Mengikuti  perkuliahan AIK ala Mondok di Pondok At-Tanwir

Keberadaan UM Metro tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, melainkan juga institusi kepanjangan tangan dakwah Muhammadiyah, sesuai dengan ciri yang melekat pada perguruan tinggi  Muhammadiyah adalah keikutsertaannya dalam lembaga dakwah, karena itu upaya untuk   melahirkan, memperbanyak dan meningkatkan kualitas kader-kader Muhammadiyah. Sesuai dengan hal itu, upaya maksimal untuk melahirkan kader-kader Muhammadiyah melalui proses pendidikan di lembaga pendidikan Muhammadiyah harus diupayakan melalui berbagai usaha termasuk melalui pendidikan dan pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ala mondok.

Perkuliahan  AIK memegang peranan yang sangat penting untuk membentuk insan akademis yang susila, karena itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan matakuliah AIK yang paling pokok adalah terletak pada perubahan sikap (attitude), mental dan tingkah laku mahasiswa, walaupun UM Metro lebih khusus AIK sudah jelas bahwasanya lembaga yang bernafaskan Islam, akan tetapi tidak membatasi hanya mahasiswa muslim saja, mahasiswa non muslim juga berhak untuk menjadi akademisi yang mulia dan berkarakter.

Belajar ala mondok di Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir ini, mahasiswa muslim tidak hanya dituntut untuk mengetahui apa saja mengenai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, namun jauh lebih dalam, mereka akan dibimbing untuk mempraktekkannya secara langsung apa yang telah mereka pelajari, sementara bagi mahasiswa non muslim perkuliahan ini diwajibkan karena ini AIK adalah mata kuliah wajib yang harus di ikuti oleh semua mahasiswa UM Metro,  tetapi yang perlu dipahami  AIK bagi non muslim wajib dalam konteks akademik saja dan bukan dalam hal keyakinan.

Substansi dari perkuliahan AIK 1 (manusia dan ketuhanan) yakni membahas tentang Islam sebagai way of life, membahas tentang hakikat manusia dan keberadaan manusia di dunia, tauhid (mengesakan Allah), aqidah (Rububbiyah, uluhiyah, asma’ wa sifat), iman dan pengaruhnya bagi manusia, syiriq (menyekutukan Allah) dan bahayanya bagi manusia. Pembahasan tersebut merupakan dasar yang sangat penting untuk dipelajari secara mendalam oleh seluruh mahasiswa tak terkecuali bagi penganut agama lain agar setiap pribadi dapat mengambil pelajaran.

Pernyataan dari beberapa mahasiswa non muslim setelah pelaksanaan AIK 1 ala mondok mereka menyatakan bahwa semua hal dipelajari dalam Islam secara rigit, mereka pun faham bahwasanya hakikat manusia diciptakan Tuhan ke dunia fana ini adalah untuk beribadah dan sebagai khalifah, memberi manfaat bagi orang lain, bermuamalah secara baik. Hal  ini menjadi motivasi bagi mereka. Ada pernyataan lain dari mahasiswa non muslim prodi manajemen bahwa “pola hidup Islam dasarnya bersih dan sehat  karena secara visual saja yang terlihat  mahasiswa muslim berwudhu 5 kali sehari, melakukan gerakan ibadah sama seperti sedang olahraga” da nada pula yang menyatakan “ pembahasan tentang tauhid dan syiriq, ketika pembahasannya disandingkan,  ini benar-benar memberikan pelajaran bahwa tauhid adalah mengesakan Allah dan haram hukumnya melakukan syirik (menyekutukan, menduakan Allah), larangan menyembah berhala, bersekutu dengan syeitan, ke dukun, menyembah berhala/ batu, benar-benar membuat kami berfikir, tuturnya”

Dengan demikian setelah melaksanakan perkuliahan AIK ala mondok, persepsi mahasiswa mahasiswa non muslim terhadap ajaran Islam kian positif, merekapun memahami bahwa di dalam ajaran Islam segala sesuatu dipelajari dari hal yang terkecil sampai yang besar, bahkan do’a-do’a harian dalam setiap aktivitas dari mulai muslim bangun tidur hingga akan tidur kembalipun ada tuntunannya, ibadah ada yang wajib dan sunnah pun pada akhirnya dipahami oleh mereka mahasiswa non muslim. Perkuliahan AIK 1 ala mondok membawa kesan mendalam bagi mahasiswa non muslim, karena menurut mereka ini pengalaman yang luar biasa yang mungkin tidak akan pernah mereka rasakan ketika mereka tidak kuliah di Universitas muhammadiyah Metro Lampung.

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut:

1.        Persepsi mahasiswa non muslim Universitas Muhammadiyah Metro terhadap program perkuliahan AIK ala mondok, sebagian besar menyatakan setuju dan beberapa mahasiswa menyatakan kurang setuju karena mereka sedikit kurang nyaman dengan iklim dan rutinitas ala pondok yang tidak biasa mereka lakukan, namun menurut Mahasiswa yang setuju  perkuliahan AIK ala mondok baik secara langsung maupun tidak langsung membawa manfaat bagi aplikasi ilmu,  mengajarkan toleransi bagi mereka, belajar hidup berdampingan dengan mahasiswa muslim, mengenal kebiasaan hidup mahasiswa muslim, memahami waktu dan cara peribadatan mahasiswa muslim. Mendapatkan pengalaman yang luar biasa seperti ini tentunya tidak dirasakan oleh mahasiswa non muslim di kampus selain Muhammadiyah.

2.        Persepsi mahasiswa non muslim Universitas Muhammadiyah Metro terhadap ajaran Islam setelah mereke melaksanakan perkuliahan AIK ala mondok kian positif, merekamemahami bahwa di dalam ajaran Islam segala sesuatu dipelajari secara rigit, mulai dari hal yang terkecil sampai yang besar, bahkan do’a-do’a harian dalam setiap aktivitas dari mulaii muslim bangun tidur hingga akan tidur kembalipun ada tuntunannya, ibadah ada yang wajib dan sunnah pun pada akhirnya dipahami oleh mereka mahasiswa non muslim dan Perkuliahan AIK 1 ala mondok membawa kesan mendalam bagi mahasiswa non muslim, karena menurut mereka ini pengalaman yang luar biasa yang mungkin tidak akan pernah mereka rasakan ketika mereka tidak kuliah di universitas Muhammadiyah Metro.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Augustin Falah Pawaka, Konstruksi Skala Sikap terhadap Pembelajaran Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) bagi Mahasiswa  di Universitas Muhammadiyah, The 10th University Research Colloqium 2019 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong.

 

Abdul Rachman Shaleh, Muhbib Abdul Wawab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, Jakarta: Kencana, 2004.

 

Asrori, Psikologi Pembelajaran, Bandung: Wacana Prima, 2009.

 

Bimo Walgito, Psikologi Sosial, Yogyakarta: Andi Offset, 1991.

 

Darwis Muhdina, Orang-Orang Non Muslim Dalam Al-Qur’an, Jurnal Al-Jurnal Adyaan, Volume I, Nomor 2, Desember 2015

 

Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya,Bandung: CV Diponegoro, 2010.

 

Faridi, Persepsi Mahasiswa Terhadap Mata Kuliah Al Islam Dan Kemuhammadiyahan (Aik) : Internalisasi Nilai-Nilai Aik  Bagi Mahasiswa, Jurnal PROGRESIVA UMM Vol. 4, No.1, Agustus 2010.

 

KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, Available at:http//kbbi.web.id/pusat. (di akses 14 Januari 2020).

 

Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.

 

M. Ihsan Dacholfany (Wakil Rektor bidang AIK dan Kerjasama), Wawancara Pembelajaran AIK 1, 4 Nopember 2019.

 

Mif Baihaqi, dkk, Psikiatri (Konsep Dasar dan Gangguan-Gangguan),Bandung: Refika Aditama, 2005.

 

Mir’atun Nisa’, Ekspektasi Mahasiswa Terhadap Mata Kuliah Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan, Prosiding Seminar Nasional Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, ISBN: 978-602-361-188-1.

 

Muhammad Utsman Najati, Konsep Psikologi Islam, Jakarta:Cendekia, 2001.

 

Muhammad Syahrul Kahar, Daeng Pabalik, Profil Pendidikan Karakter Mahasiswa Non Muslim dalam  Implementasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Jurnal Al-hayat , Volume 02, Nomor 01, Juni 2018: 79-89.

 

Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam,Yogyakarta:LPPI, 2000.

 

Noor Amirudin, Peran Pendidikan Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan Dalam Meningkatkan Perilaku Keberagamaan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik, Didaktika, Vol. 23,  Nomor 1, September 2016.

 

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, Jakarta:Rineka Cipta, 2015

 

Sujino, Standar Pengelolaan Pelaksanaan Perkuliahan Mata Kuliah AIK I , Metro: Ponpes At tanwir, 2018

 

Sujino, Wawancara Mudir Ponpes At-Tanwir, 2019.

 

Syamsul Arifin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Sesuai KKNI disampaikan dalam Workshop Kurikulum Pendidikan Tinggi Direktorat BELMAWA-DIKTI, 2018.

 

Tim Pedoman AIK Majlis Dikti PP Muhammadiyah, Pedoman Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, (Majlis Dikti PP Muhammadiyah: Yogyakarta, 2013.

 

MANAJEMEN PEMBELAJARAN BAHASA BERBASIS VIRTUAL (PROBLEMATIKA DAN SOLUSI) Muhammad Ihsan Dacholfany

 MANAJEMEN PEMBELAJARAN  BAHASA  BERBASIS VIRTUAL

(PROBLEMATIKA DAN SOLUSI)

Muhammad Ihsan Dacholfany

Universitas Muhammadiyah Metro

mihsandacholfany@yahoo.com

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Pada tanggal 31 Desember 2019 terdapat virus yang dikenal dengan nama The Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dilaporkan kantor WHO Cina telah mewabah di kota Wuhan, Cina. Virus yang diketahui memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi menyebar begitu cepat ke beberapa negara di hampir seluruh belahan dunia. Hingga pada tanggal 11 Maret 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global. Pandemi COVID-19 telah menginfeksi lebih dari lebih dari 4.248.389 orang dengan 294.046 kematian yang terkonfirmasi di 202 negara pada tanggal 14 Mei 2020 (WHO, 2020).

 

Penyakit ini menyebar dengan cepat ke seluruh dunia karena sifat unik dari virus, yaitu memiliki keragaman genetik yang luar biasa, sangat mudah menular, cara penyebaran yang mudah, dan relatif tidak terpengaruh oleh variasi iklim (MacKenzie & Smith, 2020). Dampaknya beberapa negara kemudian menerapkan ‘lockdown’ untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Pandemi ini telah menghancurkan kehidupan sosial dan memaksa miliaran orang berdiam diri di rumahnya masing-masing.. Pandemi COVID-19 telah mengganggu seluruh bidang kehidupan, termasuk juga bidang pendidikan di semua jenjang (Daniel, 2020). Di Indonesia, pemerintah membuat keputusan mendadak dengan menutup segala jenis kegiatan di sekolah termasuk kegiatan pembelajaran dan memindahkannya menjadi belajar di rumah melalui pembelajaran jarak jauh yang biasa dilakuakan secara virtual.

 

Di zaman modern, pendidikan jarak jauh menjadi pendekatan yang lebih populer dan diterima dalam pendidikan (Yilmaz, 2015). Di samping itu, dewasa ini teknologi digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan. (Benson & Kolsaker, 2015), begitu juga pembelajaran dalam jaringan dikembangkan sebagai media pembelajaran yang dapat menghubungkan secara dalam jaringan antara pendidik dan pelajar dalam sebuah ruang kelas maya (virtual classroom) tanpa harus dalam satu ruangan secara fisik (Fitriana, 2018). Pembelajaran dalam jaringan dapat dilakukan dengan virtual classroom, yaitu pengalaman belajar di suatu lingkungan yang sinkron atau asinkron menggunakan berbagai alat (seperti laptop atau smartphone) dengan akses internet (Zhu & Liu, 2020), berbagai platform digunakan untuk membantu memfasilitasi proses pembelajaran tersebut yang berfungsi sebagai media menyampaikan materi, penilaian, ataupun untuk mengumpulkan tugas, platform-platform tersebut di antaranya Whatsapp Group, Zoom Cloud Meeting, Google Classroom, Google Meet, Google Form, e-mail dan ain sebagainya.

 

Dengan demikian Pembelajaran dalam jaringan dapat dilakukan dengan virtual yaitu pengalaman belajar di suatu lingkungan yang sinkron atau asinkron menggunakan berbagai alat (seperti laptop atau smartphone) dengan akses internet (Zhu & Liu, 2020), harapannya pembelajaran secara virtual dapat bermanfaat baik peserta didik maupun tenaga pendidikan, sehingga model pembelajaran virtual ini dapat memungkinkan peserta didik  (siswa/mahasiswa) dapat  mengatur lokasi, kapan belajar dan kecepatan belajar, yang tidak dijumpai pada metode pembelajaran tradisional atau tatap muka.

 

Selama ini sistem pembelajaran tatap muka “face to face learning” di lembaga pendidikan baik itu di kampus maupun di sekolah merupakan sistem yang paling dominan dilaksanakan di sebagian besar Negara dunia sebelum akhirnya harus mengalami perubahan drastis sejak mewabahnya pandemic COVID-19, maka secara kerelaan atau terpaksa, pembelajaran secara virtual harus tetap dilakukan.

 

Dalam usaha menghindari dan mengendalikan penyebarannya covid 19 ini, pemerintah mengambil  langkah cepat  termasuk di dalam bidang pendidikan  dengan mengeluarkan regulasi khusus terkait pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan, seperti contoh diambil oleh pemerintah Indonesia melalui Menteri pendidiakn  dengan diterbitkannya Surat Edaran No. 4 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam  Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) dimana salah satu poinnya adalah anjuran belajar dari rumah. Kebijakan terkait pembelajaran berbasis virtual yang kemudian serempak digunakan sebagai sistem pembelajaran bukannya muncul tanpa problematika, imbasnya, bagi negara yang kurang siap dengan sistem ini, sudah tentu menghadapi banyak problema terlebih bagi tenaga pengajar dan peserta didik.

 

Peningkatan   mutu   pendidikan   bukanlah upaya   sederhana,   melainkan   suatu   kegiatan   dinamis   dan   penuh tantangan.   Pendidikan   selalu   berubah   seiring   dengan   perubahan jaman,  oleh  karena  itu  pendidikan  senantiasa  memerlukan  upaya perbaikan  dan  peningkatan  mutu  sejalan  dengan  semakin  tingginya kebutuhan  dan  tuntutan  kehidupan  masyarakat (Yunia, 2018:252) , sebgaimana di Indonesia bahwa konsep tujuan pendidikannya adalah membentuk manusia seutuhnya yang tercermin dari iman dan taqwa, berkepribadian, cerdas, sehat serta bertanggung jawab, maka pendidikan dalam prakteknya perlu menerapkan asas-asas yang sesuai (M Ihsan Dacholfany, 2016:25)

 

Problematika pembelajaran bahasa berbasis virtual  tentunya menghadapi problematika, yang tentunya harus dikelola dengan baik, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengevaluasian dan pengawasan atau pengontrolan secara  baik dan benar, sehingga pembelajaran dapat terlaksana sesuai dengan harapan, selain itu pula harus didukung oleh kemampuan tenaga pendidik dan tenaga pendidikan, lembaga (sekolah/kampus) serta orangtua / wali / pendamping serta terpenuhinya sarana prasarana yang memadai sehingga mampu mengatasi problematika pembelajaran virtual khususnya dalam pembelajaran bahasa  sehingga mampu  memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik, namun demikian pasti ada beberapa problematika yang tidak bisa dihadapi sendiri, maka dibutuhkan upaya bersama dalam mencari solusi agar pembelajaran virtual dapat terlaksana..

 

Dalam   hal ini, penulis mencoba mendalami bagaimana manajemen pembelajaran bahasa secara virtual dan mencari solusi dalam menyelesaikan  problem yang  berpotensi menghambat pemahaman siswa atau mahasiswa selama belajar secara virtual, di mana  perlunya pembahasan lebih lanjut sehingga secara praktis kemudian sistem pelaksanaan belajar secara tatap muka atau “face to face learning”-pun tergantikan secara masif oleh pembelajaran virtual.

 

METODE PENELITIAN

 

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispikan bagaimana manajemen pembelajaran  bahasa  berbasis virtual, dengan berbagai problematika dan usaha mencari  solusinya sehingga dapat bermanfaat khusunya di masa pandemic covid 19 ini.

 

DISKUSI

Dari berbagai problematika yang ada akan berdampak negatif lain, yang mungkin ditimbulkan dari pembelajaran berbasis virtual, yaitu pembelajaran tersebut menjadikan pelajar semakin dekat dengan dunia internet sehingga bisa terjadi hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama seperti menonton hal tidak etis dan kurang bermoral, tentunya dibutuhkan berbagai aturan dan keterampilan agar mampu menggunakan teknologi ini secara benar dan tepat serta dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara virtual tanpa kendala berarti. Dampak negatif lainnya, internet merupakan sumber berita yang menyediakan segala jenis informasi digital yang dibutuhkan penggunanya, bahkan informasi yang memiliki dampak negatif sekalipun dapat ditemukan di internet (Rodhin, 2011), walaupun memang kemajuan teknologi informasi tersebut sulit untuk dihindari, namun upaya untuk menjaga generasi muda dari hal yang tidak bermoral dan berita-berita hoax tetap harus dilakukan.

Kondisi ini dapat menjadi problem dalam pembelajaran berbasis virtual classroom, karena jika siswa tidak mampu memilah informasi dapat menciptakan kegagapan pemanfaatan informasi, namun saat ini, siswa maupun mahasiswa sudah terbiasa dengan teknologi digital dan umumnya tahu cara mengakses, membuat, dan berbagi informasi digital (Ting, 2015), namun demikian ada juga  siswa maupun mahasiswa umumnya dianggap mampu menggunakan teknologi, banyak dari mereka, ini terbukti hasil penelitian yang dilakukan. Anthony Anggrawan (2019: 339) yang menjelaskan bahwa pembelajaran daring (virtual) lebih berhasil dalam capaian hasil belajar dibandingkan dengan mahasiswa pembelajaran tatap muka pada pembelajaran bahasa Inggris, selain itu  penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berdampak positif terhadap pembelajaran siswa (Mumtaz, 2000), oleh sebab itu, tuntutan akan penguasaan teknologi dalam dunia pendidikan juga semakin tinggi terhadap para pendidik dikarenakan mereka merupakan aktor utama keberhasilan adopsi teknologi dalam pembelajaran (Joo dkk., 2016). Tuntutan tersebut pada dasarnya bertujuan untuk memperbaiki kualitas pendidikan (Chigona, 2015) yang ditandai dengan terciptanya suasana belajar-mengajar yang lebih atraktif dan efektif (Raygan & Moradkhani, 2020).

 

Sebagai tenaga pendidikan baik itu dosen / guru   akan   sulit   menerima perubahan  jika  kompetensinya  rendah,  pendidikan  akan  semakin berat  ke  depannya  apabila  kualitas  pembelajarannya  masih  rendah, oleh   karena   itu,   kompetensi   harus   ditingkatkan   untuk   kemajuan kualitas pendidikan Indonesia saat ini dan ke depannya, dalam hal ini guru    sebagai    ujung    tombak    dalam    penyelenggaraan    sistem pendidikan dapat dibantu pertumbuhan dan perkembangan profesinya bagi pencapaian tujuan pembelajaran (Nining dkk, 2020: 180).

 

Dalam pembelajaran, tentunya adanya keterlambatan dari subject dalam mengikuti kegiatan kelas virtual khususnya dalam materi bahasa di lembaga pendidikan  dan masih adanya  kecenderungan anak didik tidak serius dalam mengikuti kegiatan belajar secara  virtual sehingga siswa atau mahasiswa yang  belajar tapi juga sambil   bermain game, menonton TV dan kegiatan lain di rumah atau tempat belajar yang tentunya sehingga berakibat  kurang maksimalnya waktu dan kemampuan pendampingan  selama proses belajar dengan baik karna tidak memiliki pemahaman yang cukup terkait materi  yang disampaikan oleh tenaga pendidikan  dan akhirnya  terjadi kurang efektifnya pengelolaan pembelajaran seperti pemilihan materi  dan  penyampaiannya melalui kelas virtual secara detail, namun yang terpenting adalah dalam pembelajaran bahasa adalah sikap mahasiswa/siswa dalam pembelajaran. yaitu kognitif, afektif, dan perilaku (O. Mantiri, 2015).

 

Untuk melihat fungsi-fungsi manajemen dapat dilihat dari orang memandang menejemen itu, ada yang mengatakan fungsi manajemen itu POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling). Singkatan ini diambil dari defenisi manajemen menurut Terry dan Franklin (Musfah, 2015), namun penulis menambahkan bahwa POAC tersebut belumlah lengkap jika tidak melakukan evaluasi sehingga menjadi POACE: Planning, Organizing, Actuating, Controlling, and Evaluating), sehingga segala aktifitas yang telah dilaksanakan harus dievaluasi sehingga aktifitas yang akan datang menjadi lebih baik lagi.

 

Berdasarkan hasil wawancara dengan Yasmika Baihaqi salah satu dosen FKIP, program studi Bahasa Inggris, menyatakan  bahwa   visi 2020-2030 Universitas Muhamamadiyah Metro yaitu “Pusat Keunggulan Profetik Profesional,  Modern dan Mencerahkan”, adapun di bidang pendidikan , berusaha Mengembangkan sistem akademik yang prima, modern, dan unggul untuk menghasilkan SDM yang memiliki keilmuan profetik profesional melalui kajian keIslaman tematik yang berorientasi pada IPTEKS dan berwawasan lingkungan, maka sesuai dengan misi tersebut maka  pembelajaran bahasa Inggris secara virtual harus dilaksanakan dengan baik dan benar walaupun maih ada kendalanya, di antaranya kemampuan mahasiswa menguasai Internet dan kurangnya motivasi mahasiswa belajar melalui virtual di masa pandemi covid 19 ini (10/06/2021)

 

Dengan demikian, dalam manajemen pembelajaran secara virtual,  tentunya yang harus dipersiapkan adalah bagaimana perencanaan sampai dengan evaluasi pembelajaran dapat sesuai dengan harapan yang diinginkan sehingga manajemen pembelajaran dapat terlaksana dengan baik,  seperti   perencanaan di sini,  bagaimana seorang guru/tenaga pendidik membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pada fungsi ini tentunya harus memahami bagaimana rencana itu akan dilaksanakan. Di sini patut memahami kondisi apapun seorang guru harus bisa membuat perencanaan pembelajaran dengan baik, meskipun di era wabah covid-19 pembelajaran online/virtual maka semua akan terlaksana dengan baik (Muhammad Arifin ,dkk, 2019: 21), harapannya ada optimalisasi berbagai sumber belajar digital untuk menciptakan atmosfer pembelajaran yang lebih inovatif dan attraktif dalam kelas Bahasa .

 

Dengan demikian manajemen pembelajaran bahasa secara  virtual dapat  dilakukan, jika mampu  mengelola manajemen pembelajaran dan memanfaat sumber daya yang digunakan dalam pembelajaran secara tepat, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien sesuai yang diharapkan oleh lembaga pendidikan baik di kampus maupun sekolah sesuai dengan visi, misi dan tujuan yang diharapkan.

 

Usaha Yang Harus Dilakukan Dalam Kegiatan Pembelajaran Bahasa  Secara Virtual 

Ada beberapa usaha  yang harus dilakukan oleh  peserta didik baik siswa maupun mahasiswa   dalam kegiatan belajar secara virtual  yakni:

  1. Memiliki kesiapan dan rencana belajar dalam mengikuti pembelajaran bahasa secara virtual.
  2. Mampu menggunakan teknologi pembelajaran virtual khususnya teknologi komunikasi dan kolaboratif.
  3. Memiliki konsep akademik mandiri yang kuat serta kemampuan komunikasi serta interaksi yang baik
  4. Memiliki pemahaman dasar dan ketertarikan terhadap belajar secara virtual secara individu atau  kelompok serta berusaha  membangun kompetensi terhadap ketrampilan  terkait.
  5. Memiliki kemampuan belajar mandiri melalui pengaturan manajemen waktu dan strategi pembelajaran kognitif.

 

Ada  sejumlah Hal Yang Harus Dimiliki Oleh Tenga Pendidik Baik Dosen /Guru Dalam Pembelajaran Bahasa Secara Virtual Yakni :

  1. Memiliki perencanaan yang matang, pengorganisasian, sampai dengan implementasi serta evaluasi dalam kegiatan pembelajaran secara virtual
  2. Penguasaan internet,
  3. penguasaan ilmu pengetahuan,
  4. kreatifitas dan inovasi,
  5. kemampuan memotifasi, mumpuni dalam konsep pembelajaran virtual,
  6. pengelolaan sistem, pemilihan bahan ajar yang tepat
  7. penguasaan kontroling kelas harus ada dan dapat diaplikasikan dengan baik.

 

Solusi  Yang Harus Dilakukan.

Ada beberapa Solusi yang dapat menyelesaikan problematika pembelajaran  bahasa secara virtual antara lain:

  1. Peserta Didik (Mahasiswa / Siswa)

a)      Memiliki Disiplin dan Mengetahui jadwal kegiatan Pembelajaran Virtual, sehingga tidak terlambat. 

b)      Perlunya Keseriusan atau Fokus dalam mengikuti pembelajaran.

c)      Memiliki bahan ajar  terlebih dahulu yang akan disampaikan oleh tenaga pendidik ,

Serta aktif bertanya, jika materi belum difahami.

 

  2. Tenaga Pendidik (Dosen/Guru)

Dalam pembelajaran  bahasa  berbasis virtual, Dosen/Guru mempunyai peranan penting,

 di antaranya :

  1. Pengelolaan pembelajaran secara efektif dan menarik , mulai dari perencanaan samapai dengan evaluasi pembelajaran (POACE)..
  2. Pemilihan materi yang sesuai dengan kemampuan peserta didik.
  3. Penyampaiannya melalui kelas virtual secara jelas dan detail.
  4. Memberikan kesempatan peserta didik untuk bertanya, berdiskusi  dan lain sebagainya.
  5. Mengatur waktu yang tepat dalam menyampaikan materi

 

3. Orang tua / Wali/Pendamping

          Selain tenaga pendidik dan peserta didik, tentunya harus didukung oleh orangtua / wali,

    dengan cara :

  1. Memberikan Pendampingan orangtua/wali agar peserta didik disiplin dalam mengikuti pembelajaran virtual, karena pembelajaran bahasa, sangat sulis dibandingkan materi lainnya, kalaupun orangtua/wali tidak mampu, seyogyanya mengajak orang lain, yang bias membantu memahamkan materi yang diajarkan.
  2. Menyiapkan Fasiltas berupa Kompiuter/ HP/ Paket Internet dan sebagainya.
  3. Saat Proses belajar mengajar, orangtua/pendamping  bisa membimbing peserta didik agar memberikan pemahaman secara jelas dan  dilakukan dengan sabar  dan tidak banyak protes.
  4. Mengingatkan agar fokus, tidak mengerjakan yang lain seperti menonton, main game, dan lain sebagainya.
  5. Sebisa mungkin mampu membatu menyelesaikan tugas yang diberikan guru/dosen.

 

4. Lembaga Pendidikan (Kampus/Sekolah)

       Bagi Pemerintah atau Lembaga pendidikan Swasta yang memiliki lembaga Pendidikan hendaknya :

a.       Memiliki Perencanaan sampai dengan evaluasi dalam kegiatan pembelajaran secara virtual.

b.      Mempersiapkan Sarana dan prasana yang dapat memenuhi pembelajaran secara virtual

c.       Memilih tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang siap belajar, agar memiliki kemauan dan kemampuan  untuk membantu atau melakukan pembelajaran secara virtual.

    c.    Tidak membebani orang tua/wali khususnya dalam pembiayaan.

   

Dengan demikian, setiap pengelola, baik di lembaga pemerintah mmaupun swasta,  mulai dari pengurus yayasan, pimpinan, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di lembaga pendidikan harus mempunyai komitmen terhadap target mutu, ketepatan waktu, dan efektivitas program pembelajaran secara virtual, lalu melakukan  pembaharuan proses kegaiatan belajar mengajar pada pelayanan dan kepuasan stakeholders serta kemampuan untuk mengaktualisasikan management best practice dalam pengelolaan dan pengembangan lembaga pendidikan. (M Ihsan Dacholfany, 2017:10), sehingga pembelajaran bahasa secara virtual dapat sesuai dengan harapan, dengan dukungan beberapa pihak, mulai dari Pimpinan lembaga pendidikan, tenaga pendidik, siswa/mahasiswa itu sendiri serta sarana pra sarana serta kebutuhan yang diperlukan dapat terpenuhi dengan baik dan  tertata rapi sesuai dengan manajemen yang mumpuni dan sesuai yang diharapkan.

 

 

 

 

KESIMPULAN

Dalam Pembelajaran bahasa berbasis Virtual ini,  seyogyanya semua pihak, mulai dari tenaga pendidik, peserta didik dan orang tua wali /pendamping serta fasilitas harus  mendukung segala kegiatan proses belajar mengajar ini  dan perlu manajemen yang baik sehingga perencanaan sampai dengan evaluasi dapat terlaksana dengan baik walaupun dalam keadaan Pandemi Covid 19 ini, dan  tidak menjadi hambatan semua pihak dalam rangka mencerdaskan anak bangsa.

           

 

REFERENSI

 

Anthony Anggrawan, Analisis Deskriptif Hasil Belajar Pembelajaran Tatap Muka Dan Pembelajaran Daring Menurut Gaya Belajar Mahasiswa, Jurnal MATRIK Vol.18 No.2 (Mei) 2019, Hal 339-346 DOI : https://doi.org/10.30812/matrik.v18i2.411

 

Chigona, A. (2015). Pedagogical shift in the twenty-first century: preparing teachers to teach with new technologies. Africa Education Review, 12(3), 478–492. https://doi.org/10.1080/18146627.2015.1110912

 

Daniel, S. J. (2020). Education and the COVID-19 pandemic. Prospects. https://doi.org/10.1007/s11125-020-09464-3

 

Fitriana, D. (2018). Peran Media E-Learning Dalam Pembelajaran Untuk Mengoptimalkan Kemampuan Literasi Matematika dan Norma Sosiomatematik. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muria Kudus, (0291), 58–62

 

Joo, Y. J., Lim, K. Y., & Kim, N. H. (2016). The effects of secondary teachers’ technostress on the intention to use technology in South Korea. Computers and Education, 95, 114–122. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2015.12.004

 

Muhammad Arifin, dkk Manajemen Pembelajaran Pendidikan Jarak Jauh untuk Millenial, Sukabumi, Haura Publishing 2020

 

M. Ihsan Dacholfany , Inisiasi Strategi Manajemen Lembaga Pendidikan Islam Dalam Meningkatkan Mutu Sumber Daya Manusia Islami Di Indonesia Dalam Menghadapi Era Globalisasi , jurnal At-Tajdid, Volume. 1, No. 1 Januari-Juni 2017.

 

M. Ihsan Dacholfany, Peranan Pengambilan Keputusan Dalam Rangka menciptakan inovasi Di bidang pendidikan, Jurnal Dewantara Vol I , No .0 1 Januar i-Juni 2016.

 

Moh. Arif Mahbub,  Optimalisasi Integrasi Teknologi dalam Konteks Pembelajaran Bahasa: Alternatif Baru dalam Pengelolaan Kelas Bahasa Inggris Virtual, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris 1Universitas Islam Jember , repositori.uij.ac.id

 

Musfah, J. (2015). Manajemen Pendidikan . Jakarta: Kencana.

 

MacKenzie, J. S., & Smith, D. W. (2020). COVID-19: A novel zoonotic disease caused by a coronavirus from China: What we know and what we don’t. Microbiology Australia. https://doi.org/10.1071/MA20013

 

Mumtaz, S. (2000). Factors affecting teachers’ use of information and communications technology: A review of the literature. Journal of Information Technology for Teacher Education, 9(3), 319–342. https://doi.org/10.1080/14759390000200096

 

Nining Surya Ningsih, M. Ihsan Dacholfany, Sudirman Aminin, Implementasi Supervisi Akademik Dalam Meningkatkan  Kualitas Pembelajaran di SMA dan SMK Se-Kecamatan Abung  Semuli Lampung Indonesia, Jurnal el-Ghiroh. Vol. XVIII, No. 02. September 2020

 

O. Mantiri, “Key to Language Learning Success,” J. Arts Humanit., pp. 14–19, 2015.

 

Raygan, A., & Moradkhani, S. (2020). Factors influencing technology integration in an EFL context: investigating EFL teachers’ attitudes, TPACK level, and educational climate. Computer Assisted Language Learning, 0(0), 1–22. https://doi.org/10.1080/09588221.2020.1839106

 

Rodhin, R. (2011). Internet dalam konteks perpustakaan. Pustakaloka, 3(1), 1–19. https://doi.org/https://doi.org/10.21154/pustakaloka.v3i1.631

 

 

Ting, Y. L. (2015). Tapping into students’ digital literacy and designing negotiated learning to promote learner autonomy. Internet and Higher Education, 26, 25–32. https://doi.org/10.1016/j.iheduc.2015.04.004

 

Yunia  Sari  Reziki,  M.  Ihsan  Dacholfany,  2018, Pengaruh Supervisi Akademik   Kepala   Sekolah   Dan   Kompetensi   Pedagogi Terhadap  Mutu  Sekolah  Di  Sma  Se-Kecamatan  Pekalongan Lampung  Timur,  Jurnal  Lentera  Pendidikan  Pusat  Penelitian LPPM UM Metro Vol. 3. No. 2, Desember 2018.

 

 

Yilmaz, O. (2015). The effects of “live virtual classroom” on students’ achievement and students’ opinions about “live virtual classroom” at distance education. Turkish Online Journal of Educational Technology, 14(1), 108–115.

 

WHO. Coronavirus disease. , 2019 World Health Organization 2633 (2020).

 

Zhu, X., & Liu, J. (2020). Education in and After Covid-19: Immediate Responses and LongTerm Visions. Postdigital Science and Education. https://doi.org/10.1007/s42438-020- 00126-3

M ihsan Dacholfany , Materi disampaikan pada kegiatan IMM, NGEMIL DUKU (Ngebet Cari Ilmu, Dengan Ukhuwah Kita Utuh) Selasa 27 Juli 2021, melalui Meeet Zoom. 19.45 sd 21.30

 MENGUPAS SURI TAULADAN KEPEMIMPINAN RASULALLAH[1]

M Ihsan Dacholfany[2]

 

PENDAHULUAN

Topik yang dimintakan kepada saya kali ini adalah kaitannya dengan kepemimpinan Rasulullah Saw. Saya akan mulai dengan mengutip sebuah buku yang ditulis oleh Jeremie Kubicek (2011) , buku itu berjudul Leadership is dead, how influence is reviving it[3]. Kalau kita terjemahkan buku itu menjelaskan bahwa kepemimpinan telah mati, bagaimana pengaruh dihidupkan kembali.

Mengutip sebuah sya'ir...

INNAMAL MAR'U HADISAN BA'DAHU FA KUN HADISAN HASANAN LIMAN WA'A.

Sesungguhnya manusia adalah cermin bagi generasi berikutnya dan jadilah sebaik-baik cermin (teladan) bagi generasi berikutnya..
Bahwa Sejatinya kisah hidup manusia akan menjadi cerita bagi orang orang sesudahnya

Seperti halnya pepatah orang tua kita dulu " Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, sedangkan manusia? manusia mati meninggalkan nama, meninggalkan teladan."

MENGAPA RASULULLAH YANG KITA PILIH

الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ  اَحْسَنَ نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ

Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui (Qs. Yusuf : ayat 3)

Al Quran menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal kepemimpinan. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 21).

·         لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

Nabi Muhammad SAW merupakan sosok pemimpin yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Hal ini diakui oleh Michael Hart seorang penulis Barat dalam bukunya “The 100, a Rangking of The Most Influential Persons in History”[4]. Dengan sangat obyektif ia menempatkan Nabi SAW sebagai orang paling berpengaruh dalam sejarah. 

Hal itu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki kecerdasan Memimpin dan  manajerial yang tinggi dalam mengelola, mengatur, dan menempatkan anggota masyarakatnya dalam berbagai posisi sesuai kemampuannya, sehingga dapat mencapai tujuan utama, yaitu membangun masyarakat madani yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Nabi Muhammad SAW selalu mengedepankan akhlak mulia. Hal ini diakui oleh Husain bin Ali sebagai cucu Nabi Muhammad SAW. Bahwa Nabi adalah pribadi yang menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa.

Orang-orang yang bersikap obyektif dari kalangan non-muslim pun mengakuinya. Washington Irfing, seorang orientalis dan salah seorang penulis besar Amerika yang menjadi kebanggaan Amerika Serikat dan negara lain di abad sembilan belas Masehi, lahir tahun 1832 M di kota Washington dan meninggal tahun 1892 M. Dia berkata, ”Muhammad adalah penutup para nabi, rasul paling agung yang diutus oleh Allah SWT untuk menyeru manusia kepada penyembahan kepada Allah.”

George Bernard Shaw, seorang Filosof Inggris dan penulis alur cerita film di Inggris yang terkenal, lahir di Irlandia, meraih Nobel di bidang sastra tahun 1920 M. Dia berkata, ”Aku telah membaca kehidupan Rasul Islam dengan baik, berkali-kali dan berkali-kali, dan aku tidak menemukan kecuali akhlak-akhlak luhur yang semestinya, dan aku sangat berharap Islam menjadi jalan bagi dunia.” Dan masih banyak pengakuan non-Muslim terkait keluhuran akhlak Nabi SAW (lihat dalam Pesona Akhlak dan Kekuatan Pribadi Manusia Teragung Sepanjang Masa, karya Hisyam Muhammad Sa’id Barghisy, alih bahasa Izzudin Karimi).

NABI MUHAMAMD SEBAGAI RASULLAH YANG PATUT KITA CONTOH (TAULADAN)

Nabi  Muhammad SAW memiliki rasa empati dalam memimpin. Nabi Muhammad tidak pernah mencaci seseorang dan menegur karena kesalahannya, tidak mencari kesalahan orang lain, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat. Kalau Nabi Muhammad berbicara, yang lain diam menunduk seperti ada burung di atas kepalanya, tidak pernah disela atau dipotong pembicaraannya, membiarkan orang menyelesaikan pembicaraannya, tertawa bersama mereka yang tertawa, heran bersama orang yang heran, rajin dan sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa yang diperlukan orang yang tertimpa kesusahan, tidak menerima pujian kecuali dari yang pernah dipuji olehnya (HR Tirmidzi). 

Nabi Muhamamd SAW mengedepankan keteladanan (uswah hasanah) dalam memimpin. Dikisahkan dari Al Barra’ bin Adzib, ia berkata: “Kulihat beliau mengangkuti tanah galian parit, hingga banyak debu yang menempel di kulit perutnya. Sempat pula kudengar beliau bersabda, “Ya Allah, andaikan bukan karena Engkau, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bershadaqah dan tidak shalat. Turunkanlah ketenteraman kepada kami dan kokohkanlah pendirian kami jika kami berperang. Sesungguhnya para kerabat banyak yang sewenang-wenang kepada kami. Jika mereka menghendaki cobaan, kami tidak menginginkannya.”

Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang mengedepankan kebersamaan. Nabi mengusulkan sebuah ide win-win solution dalam penyelesaian masalah peletakkan hajar aswad. Direntangkannya sebuah kain besar, kemudian hajar aswad diletakkan di bagian tengahnya, lalu beliau meminta kepada setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut. Setelah itu, hajar aswad disimpan ke tempat semula di Ka’bah. Dengan cara seperti itu, tidak ada satupun kabilah yang merasa dirugikan, bahkan mereka sepakat untuk menggelari beliau sebagai al-Amin (orang yang terpercaya).

Jadi, kekuatan akhlak inilah yang menjadi pondasi dalam kepemimpinan Nabi SAW. Dan, Akhlak Nabi adalah Alquran. Allah SWT menegaskan, ”Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS al-Qalam [68]: 4). Ketika Aisyah RA ditanya tentang akhlak Nabi SAW, ia menjawab bahwa akhlak Nabi adalah Al-Quran (HR Muslim). 

Tegas dan Bijak

Nabi Muhammad SAW sangat tegas dalam masalah penegakan hukum. Tidak pernah menetapkan suatu hukum dengan rasa belas kasihan, pilih kasih, atau tebang pilih. Tidak memihak kepada siapa pun, baik pada pejabat pemerintahan, sahabat, masyarakat kecil maupun anggota keluarganya sendiri, termasuk anaknya. 

Hal itu ditunjukkan dengan sikap tegasnya, “Demi Allah, andai Fatimah Putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain dikenal figur yang tegas, juga dikenal sebagai sosok yang bijak dalam mengambil keputusan. Sebelum memutuskan suatu perkara, Nabi selalu memikirkannya secara matang, dan mengacu kepada kaidah yang ditetapkan dalam Alquran. Misalnya, pada saat beliau memutuskan sanksi rajam terhadap pelaku perzinahan.

Dalam Shahih Muslim diceritakan, suatu waktu ada seorang wanita dari suku Ghamidiyyah menghadap Nabi Muhammad SAW. Dia berkata, ”Ya Rasululah, sungguh aku telah berbuat lacur. Maka, aku mohon bersihkanlah aku.” Nabi dengan arif menolak pengaduan tulus wanita tersebut.

Karena penasaran pertemuannya dengan Nabi Muhamamd tidak membawa hasil, perempuan Ghamidiyyah kembali mendatangi Nabi Muhamamd keesokan harinya seraya berkata, ”Ya Rasulullah mengapa engkau tidak menjawab pengaduanku? Apa barangkali engkau meragukanku sebagaimana engkau meragukan pengaduan Ma’iz ? Demi Allah, aku sekarang sedang hamil.” Kali ini Nabi menjawab, ”Datanglah sesudah kamu melahirkan.”

Beberapa bulan kemudian, perempuan Ghamidiyyah itu melahirkan anak yang dikandungnya, lalu dia menghadap Nabi Muhammad. Sambil membawa serta si jabang bayi dalam gendongannya dia berkata, ”Rasulullah, aku telah melahirkan.” Nabi menjawab dengan ramah, ”Pergilah kamu menyusui anakmu hingga kamu menyapihnya.”

Setelah masa menyusui anaknya berakhir, ia kembali menghadap Nabi. ”Wahai Nabi Allah, ini aku. Sekarang anakku telah kusapih dan dia sudah bisa makan.” Berikutnya si anak yang masih kecil tersebut diserahkan kepada seseorang dari kaum Muslimin dan akhirnya Nabi memutuskan agar wanita tersebut dirajam, sebagai hukuman atas perbuatan zina yang dilakukannya.  

Demikian sebagian kunci sukses dalam kepemimpinan Nabi SAW. Masih banyak lagi kunci sukses kepemimpinan Nabi Muhammad lainnya yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, yang seharusnya terus digali, diperkenalkan, dan implementasikan di tengah bangsa yang sedang dilanda krisis dalam kepemimpinan.
           Atas keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, di dapatkan dari berbagai sumber, bahwa kriteria seorang pemimpin yang baik seharusnya  memiliki sifat-sifat atau karakter yang baik, sebagaimana 4 sifat yang di miliki oleh Rasulullah, antara lain : Shidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah.

1.     Shidiq (selalu berkata benar)

Seorang pemimpin harus berkata jujur, dalam arti segala apa yang dipikirkan, di ucapkan harus sesuai dengan apa yang di lakukan.

 

2.     Amanah ( dapat di percaya)

Seorang pemimpin adalah pemegang amanah, maka itu ia harus dapat menyampaikan amanah dengan baik. Sebagai contoh kisah raja Fir'aun. Fir'aun seorang raja yang seharusnya mensejahterakan kaumnya, namun justru sebaliknya. Ribuan orang menjadi korban kekejamannya, dengan di paksa bekerja secara tidak manusiawi. Bahkan hanya gara-gara ada kabar dari salah seorang penyihir yang mengatakan kelak yang akan menggeser kedudukannya adalah seorang anak laki-laki, maka ia memerintahkan kepada pengikutnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir kala itu.

 

3.     Tabligh (menyampaikan)

Sebagai contoh, seorang pemegang kekuasaan politik, wajib hukumnya untuk memiliki ketrampilan mengkomunikasikan ide-ide yang tersusun dalam sebuah rencana yang baik dan matang untuk dapat memaksimalkan potensi setiap warganya untuk mencapai tujuan bersama.

 

4.Fathonah ( cerdas)

Kecerdasan yang dimiliki seorang pemimpin, bukan hanya kecerdasan intlektual (IQ) semata, namun lebih dari itu adalah kecerdasan yang bersifat majemuk yang menggabungkan beberapa kecerdasan lainnya yang di miliki oleh manusia.

Contoh cerita di zaman Nabi, pada saat Nabi dan para sahabat sedang berbincang-bincang di Masjid, masuklah orang Badui secara tiba- tiba. Mungkin karena ketidaktahuan atau memang sudah tak kuasa menahan buang air kecil, orang tersebut

kemudian kencing di masjid. Bisa di bayangkan masjid di jaman sekarang pasti berbeda dengan masjid pada jaman Nabi. Spontan, para sahabat kemudian marah dan hendak menghardik orang Badui tersebut. Namun dengan sikap tenang, Nabi kemudian memberi isyarat kepada sahabatnya untuk kembali duduk dan membiarkan orang Badui tersebut meneruskan buang air kecilnya. Setelah selesai baru Nabi memerintahkan kepada orang Badui tersebut untuk menyiram dan membersihkan bekas air kencing tersebut baru kemudian mengajaknya berdialog. Dari cerita tersebut menggambarkan betapa cerdasnya Nabi dalam menghadapi situasi yang demikian mengundang emosi, hingga atas kesadaran dan kekagumannya pada sifat Nabi, orang Badui tersebut kemudian masuk Islam.

Itulah ke empat sifat Nabi Muhammad SAW yang patut menjadi suri tauladan bagi ummatnya terutama sebagai pemimpin. Ada lagi yang tidak boleh terlupakan dari ke empat sifat Nabi, yaitu keteladanan (uswah) Nabi Muhammad SAW. Seperti halnya kita berbicara, memberikan penjelasan dengan pembicaraan yang menggugah orang lain, tentu banyak yang mampu melakukannya, tapi memberi tauladan yang baik dalam berbagai bidang aktifitas tentu bukan pekerjaan yang mudah.

PENUTUP

Semoga Allah menganugerahkan negeri ini pemimpin yang mau mempelajari dan meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad SAW agar dapat mengantarkan kepada kehidupan yang lebih baik, nyaman dan bahagia dunia dan akhirat kelak. Amin. 

          REFERENSI

Al-Qur’an dan Al-Hadists

Jeremie Kubicek, New York, Howard Book, 2011), h, 12 

Michael H. Hart,  The 100, a Rangking of The Most Influential Persons in History  Jakarta, Pustaka Jaya, 1985

 



[1] Materi disampaikan pada kegiatan IMM, NGEMIL DUKU (Ngebet Cari Ilmu, Dengan Ukhuwah Kita Utuh) Selasa 27 Juli 2021, melalui Meeet Zoom. 19.45 sd 21.30

[2] Adalah Guru Ngaji, di UM Metro, IAIN Metro dan UIN Raden Intan, sekarang diamanahi menjadi Wakil rector bidang AIK dan Kerjasama di Universitas Muhammadiyah Metro Lampung.

[3] Jeremie Kubicek, New York, Howard Book, 2011), h, 12 

[4] Michael H. Hart,  The 100, a Rangking of The Most Influential Persons in History  Jakarta, Pustaka Jaya, 1985

 

ayah dan ibu ihsan dacholfany


 

Key note speker at bahawalpur pakistan